REFLEKSI TUJUH BULAN ANGKATAN “06” DI EKONOMI

Senin, 07 April 2008

Setiap generasi punya sejarahnya sendiri, oleh karena itu marilah kita melukis sejarah kita dengan tinta emas.

Kalau melihat keadaan angkatan “06” sekarang ini, jangankan menggunakan tinta emas dengan tinta warna lain saja kita tidak bisa. Jangankan mengukir sejarah fenomenal membuat sejarah biasa-biasa saja kita tidak bisa. Malahan sejarah kelam telah menunggu di depan mata. Ambang kehancuran Angkatan “06” tinggal menunggu waktu.

Bagaimana tidak kawan-kawan di Angkatan “06” sedang menanam bibit-bibit kehancuran tersebut. Sudah banyak kawan-kawan telah berani mengaktualisasikan diri dengan cara bermain domino di kampus. Ada yang mengganggap kampus sebagai ajang pameran busana dengan memakai pakaaian yang aduhai, mengoda orang-orang yang tidak beriman. Bahkan yang paling dashyat kawan-kawan mencari uang di kampus dengan memasarkan produk-produk “Multi Level Marketing”.

Dari bibit-bibit unggul yang telah di semai ole kawan-kawan dan siap untuk di tanam serta menghasilkan pohon yang berbuah kehancuran. Dengan siraman-siraman rohani dari birorakrat kampus serta pupuk-pupuk hegomoni yang di tabur oleh media menambah subur pohon kehancuran.

Di sini peran dari Lembaga kemahasiswaan menjadi hama untuk menganggu pertumbuhan pohon kehancuran tersebut. Lembaga kemahasiswaan bisa menjadi hama pengerat yang menyerang akar pohon sehingga pohon menjadi rapuh. Dengan begitu pohon kehancuran tersebut akan roboh dengan sendirinya tanpa perlu menggunakan gergaji untuk memotongnya.

Semoga dengan tulisan ini membangkitkan kesadaran kawan-kawan untuk membasmi pohon kehancuran sehingga pohon tersebut menjadi layu sebelum sempat berkembang.

Dan kalau ada kawan-kawan yang merasa tersinggung atau merasa kenyamanannya terganggu dengan tulisan ini maka penulis mengucapkan “Mohon Maaf Lahir dan Batin”.


Read more!

GLOBAL WARNING FOR GLOBAL WARMING

Bahaya global warming telah di depan mata!!!! Karikatur anekdot di atas mengambarkan bahwa menipisnya pakaian manusia hari ini akibat dari perubahan iklim. Slogan "Back to Nature" kalau melihat dari gambar di atas maka pada tahun 2020 semua orang akan bugil karena peningkatan iklim global. Keenganan negara-negara maju untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang mereka hasilkan akan mempercepat perubahan iklim global. Read more!

Genosida Yang Mengalahkan Rasa Kantuk

Senin, 14 Januari 2008

Hari ini tidak ada yang istimewa, sama dengan hari-hari sebelumnya. Rutinitas harian yang tak mungkin setelah mahasiswa akan lagi kurasakan. Walaupun sangat membosankan tapi akan kukenang selamanya. Menjalani kehidupan di kampus sungguh sangat membingungkan. Atau memang hanya saya yang membuat membingung. Tapi itulah yang kurasakan.
Asyik di kampus bercengkrama dengan para penghuninya membuatku sedikit kehilangan rasa bingungku. Tanpa terasa terik matahari semakin menyengat dan itu malah membuat mataku si serang rasa kantuk yang sangat. Ini akibat semalam membaca buku tentang roman cinta paling legendaris, hingga lupa waktu. Kamar salah satu kawan yang menjadi sasaran pelabuhan sementaraku. Kamar itu ku jadikan Arena pelampiasan nafsu istirahatku yang semalam terenggut oleh sebuah roman kolosal.
Pojok kamar terpampang sebuah computer, yang menarik minatku unutk melihat isi dari processor yang ditanamkan di dalam CPU. Ku dapatkan file yang berisi FILM. Dari Dokumenter sampai film Indonesia populer. Perhatianku terarah pada sebuah file tanpa nama. Lalu ku gerakan mouse untuk membukanya. Tertampang di monitor sebuah tayangan yang menurutku sangat memngerikan. File yang terbuka tersebut ternyata sebuah film documenter yang menceritakan liputan-liputan para jurnalis tentang peristiwa Genosida. Inti dari pembersih atau pemusnahan etnis atau ras tertentu. Baik itu melalui pembunuhan, menciptakan kondisi yan tidak kondusif sehingga sebuah etnis terancam punah, atau menghalangi-halangi regenarasi pada sebuah etnis. Peristiwa genosida sudah sejak zaman kuno terjadi. Tapi hingga kini malah masih sering terjadi. Kasus Genosida terakhir oleh milisi Janjaweed di Sudan yang membantai kaum kulit hitam. Peristiwa Holocaust juga merupakan bagian dari genosida. Kekejaman Slobodan Milosevic dan Pol Pot dengan Khmer Merahnya contoh lain genosida.

Di jaman modern ini telah banyak hal yang dilakukan untuk mencegah Genosida yang menjadi Pelanggaran HAM berat. Setara dengan Kejahatan terhadap kemanusian, kejahatan perang. Dan kejahatan agresi. Tapi tetap saja genosida terjadi. Pertemuan sekitar yang 120 negara yang melakukan pertemuan dan menghasilkan Statuta Roma. Sehingga terbentuk MAhkamah Pidana Internasional pun tak mampu berbuat banyak. Walaupun isi dari Stuta Roma telah diratifikasi ke dalam undang-undang di 76 negara. Termasuk Indonesia lewat Undang-Undang no. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Mungkin rasa superior dari sebuah etnis dan ras sehingga menggangap yang lain harus dihilangkan belum dapat dihilangkan dengan konstitusi tersebut. Bahkan keangkuhan dari sebuah rezim otoriter tak dapat dikendalikan oleh pasukan perdamaian.
Entah sampai kapan peristiwa genosida akan terus terjadi??? Pertanyaan tersebut masih belum saya dapatkan jawabannya.
Mungkin Genosida akan berakhir kalau kita memaknai kata-kata dari Sang Suci Gandhi “Nasionalismeku (Etnis,suku,ras, dan apapun namanya) adalah kemanusiaan”. Film documenter tersebut memberiku banyak pelajaran. Dan membuat rasa kantuk yang menyerang tak mampu menahan keinginanku untuk melihat lebih jelas peristiwa genosida… Read more!

Tuntutlah Hakmu

Minggu, 06 Januari 2008

Seorang tokoh revolusioner Iran pernah berkata"jika ingin membuat revolusi di suatu negara maka ciptaan 400 ribu intelektual yang benar-benar intelektual. kalau Gramsci menyebutnya intelektual organik. untuk menciptakan revolusi di indonesia terlebih dahulu harus didahului revolusi pendidikan. Oleh karena kepada kawan-kawan yang masih resah dan mempunyai mimpi untuk melakukan revolusi haruslah terlebih dahulu menolak komersialisasi pendidikan dan seluruh perangkat regulasi, legalisasi dan legitimasi, termasuk di dalamnya RUU BHP dan kebijakan yang membiarkan pemilik modal mengejar profit di bidang pendidikan. Untuk menciptakan Intelektual yang dapat menjalnkan fungsi intelektualnya hanya dengan memberi akses pendidikan kepada seluruh Rakyat. Jadi Kalau Pendidikan Gratis maka terwujudnya 400 ribu yang dapat menjadi pemantik untuk terjadinya Api Unggun Revolusi tinggal menunggu waktu.

Darmanytias, salah seorang pengamat pendidikan, pernah mengatakan "jika pendidikan itu mahal maka siapa lagi yang mau jadi relawan dan melaksanakan kerja-kerja sosial". Tapi kawan-kawan harus terhadap kapitalisme dan seluruh kaki tangannya karena mereka dapat dengan mudah membuat antitesa dari kapitalisme menjadi sebuah sintesa . Jadi kawan harus membulatkan tekad untuk menolak BHP dan segala bentuk komersialisasi pendidikan. Jangan sekali-kali terbujuk oleh rayuan manis dan siraman rohani yang dilakukan oleh BIrokrat kampus dan para pejabat korup.

Karena Tidak mungkin "Seorang Penjual Roti membuat roti terbaiknya, untuk makan malam kita karena kebaikan hatinya, tapi karena kepentingan pribadinya. Jadi mungkin sudah saatnya para Generasi tua yang korup dan kawan yang sudah merasa tua dan tak mau bergerak dikumpul di Lapangan PKM Unhas dan dieksekusi oleh para generasi Muda yang masih ingin melihat keadilan dan kesejahteraan seluruh umat manusia, tegak di muka bumi. Karena alam ini sanggup memenuhi seluruh kebutuhan hidup manusia tapi tidak dapat memenuhi keserakahan sekelompok orang yang bernama kaum borjuis.

Tapi jika mahasiswa dan para generasi muda tidak mau menuntut haknya, biarlah mereka ditindas sampai akhir hayatnya oleh para penguasa korup. Akhirnya tiba pada suartu masa dimana Keadilan dapat ditegakkan dan kesejahteraan rakyat dapat direalisasikan. Tak ada lagi kesenjangan yang dapat membuat rakyat bergerak, tak adalagi kekerasan yang dilakukan oleh para penguasa. Tapi itu semua dapat terwujud jika kawan menuntut dilaksanakanya "pendidikan Gratis" di negeri yang subur ini (bahkan jika kita menanam tongkat sekalipun akan tumbuh).

Bila suatu negara sudah tidak dapat memenuhi hak-hak rakyatnya maka sudah saatnya kita membubarkan Negara yang seenak perutnya mengklaim kita sebagai rakyatnya. cukup sekian dulu celetoh dari seekor camar tolol yang resah melihat keadaan sebuah negeri yang para petaninya harus makan Nasi aking. sebelum saya mengakhiri tulisan ini ada baiknya saya menutupnya dengan beberapa kata yang mungkin dapat membangkitkan semangat perlawanan kita "Wahai anak muda jangan pernah takut menuntut hak kalian karena kalian adalah Pemilik sah masa depan Bangsa".

Read more!

ORGANISATORIS OPORTUNIS

Selasa, 04 Desember 2007

Tulisan ini berangkat dari realita lembaga kemahasiswaan saat ini. Baik itu lembaga eksternal maupun internal. Bahwa saat ini lembaga sudah melenceng dari frame yang ada. Lembaga sekarang ini dihuni oleh opurtunis yang mengunakan lembaga unuk kepentingan pribadi. Apa itu oportunis? Pertanyaan itu pasti muncul dibenak anda. Kalau soe Hok Gie mengatakan ada dunia pilihan menjadi manusia di Indonesia yakni idealis dan apatis. Tetapi tidak sempat menyebutkan atau sudah memasukkan tipe oportunis ke dalam apatis atau idealis. Karena oportunis juga menjadi salah tipe manusia Indonesia, bahkan tipe ini yang paling banyak. Oprtunis merupakan tipe yang mengambil kesempatan yang paling menguntungkan dirinya. Kembali ke lembaga yang kehilangan nilai historisnya. Lembaga yang secara historis sebagai tempat berjuang sudah jauh ditinggalkan. Berganti menjadi lembaga sebagi tempat kita memperbanyak jaringan untuk masa depan (kehidupan pasca kampus).

Hal tersebut dapat dilihat pada selembar kertas yang katanya adalah “Falsafah Berlembaga”. Dalam salah satu poinnya bertuliskan “Di lembaga kemahasiswaan tempat kita untuk memperbanyak kawan/jaringan untuk masa depan(kehidupan pasca kampus) bukan tempat memperbanyak musuh/lawan”. Sepakat bahwa lembaga tempat untuk memperbanyak kawan dan bukan memperbanyak musuh. Tetapi untuk memperbanyak jaringan untuk masa depan (kehidupan pasca kampus) ini yang menimbulkan penafsiran ganda (ambiguitas). Kalau penafsiran saya terhadap poin tersebut dari melihat realita yang ada. Lembaga dijadikan salah satu dijadikan ladang untuk mendapatkan kepentingan pribadi. Entah penafsiran yang dilakukan sang pembuat “Falsafah Berlembaga” itu beda. Mirip dengan perluasan jaringan yang dilakukan oleh MLM dan MNC. Untuk menjelaskan MLM dan MNC mungkin tidak terlalu penting karena mahasiswa ekonomi pasti lebih tahu hal ini. Melihat fakta yang ada di ekonomi sudah banyak mahasiswa yang menjadi gurita MLM. Dan makin banyak yang mempersiapkan diri menjadi kaki tangan MNC.

Hal yang terus-menerus menjadi alasan klasik sang oportunis adalah tuntutan Orang tua. Sehingga fungsi meraka sebagai mahasiswa terkikis oleh tugas anak yang harus berbakti pada ortu. Mungkin itu yang sekarang dihadapi oleh para ketua lembaga, pengurus terasnya, hingga para pengurus cunddekeng untuk berorganisasi. Hal ini bisa saja benar melihat lembaga yang sudah tidak punya gaung, karena hanya dijadikan arena perluasan jaringan oleh para organisatoris oportunis. Kalau hal memang benar terjadi, saya ingin kembali membuka memori sang oportunis tentang sebuah film kolosal “Naga Bonar 1”. Dimana dalam sebuah adegan Naga Bonar harus mengendong sang Ibu di tengah peperangan yang berkecamuk. Naga bonar telah membuktikan bahwa tugasnya kepada Negara dapat dilaksanakan tanpa meninggalkan tugasnya sebagai seorang anak. Seharusnya para pengurus maupun mahsiswa lainnya menjadikan Naga bonar sebagai contoh. Agar doktrin-doktrin fungsi mahasiswa pada pengkaderan awal tidak hanya pada tataran retorika tapi sudah dipraksiskan.

Lembaga kemahasiswaan yang diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kritis. Kini sudah termakan bujukan kapitalisme. Senasib dengan sekolah-sekolah formal yang hanya menciptakan robot-robot kapitalisme. Lembaga yang dahulu merupakan alternatif untuk menjungkir balikan logika kapitalisme. Sekarang malah menjadi salah satu pabrik kapitalisme untuk menciptakan labor yang potensial. Kalau Gramsci menyebutnya Intelektual Mekanik. Sehingga lembaga dan orang-orang di dalamnya menjadi menara gading. Semakin enggan melihat ke bawah (hilang jiwa sosial).

Pada kongres Senat Mahassiswa Ekonomi beberapa waktu yang lalu. Ada sebuah wacana yang sangat radikal. Salah satu kawan merekomendasikan untuk membubarkan lembaga kemahasiswaan. Sejalan dengan kebijakan yang pernah diambil oleh Gus Dur saat masih menjadi presiden untuk membubarkan Parlemen(MPR/DPR). Bagi sebagian besar orang itu hal yang gila dan mengada-ada. Tetapi Gus dur dan kawan yang menginginkan pembubaran lembaga mungkin punya dasar yang kuat. Kita lihat sekarang bagaimana MPR/DPR dipenuhi oleh tikus-tikus yang terus mengerogoti uang rakyat. Begitu juga dengan lembaga kemahasiswaan yang di huni oleh para “oportunis” yang sebentar lagi akan bermetamorfosis menjadi “Borjuis imut-imut”.

Tulisan tidak bermaksud menyudutkan siapa-siapa. Ini hanya pendekskripsian subjektifitas penulis melihat keadaan lembaga hari ini. Kalau anda merasa tersinggung atau dizhalimi oleh tulisan ini. Jangan merobek kertasnya tetapi robek tulisan ini dengan wacana tandingan. Anda dapat membuat antitesa dari tesa ini, sehingga akan lahir sebuah sintesa. Mungkin ini hanya sebuah proses dialektika. Read more!

ANAK-ANAK IBU PERTIWI

Hari ini kembali saya dipecundangi oleh matahari. Sang surya lebih dulu menyapa saya. Ada kesenangan tersendiri jika dapat menyapa sang mentari terlebih dahulu. Langsung saja saya beres-beres untuk segera ke kampus. Walaupun hari ini adalah hari libur. Tetapi ada janjian dengan kawan untuk membahas tentang penerbitan kampus.

Seperti biasa saya langsung menuju ke jalan yang dilalui oleh pete-pete kampus. Di atas pete-pete telah ada 2 orang anak yang didampingi oleh ibunya masing-masing. Sungguh riang kedua anak tersebut. Kira-kira usia kedua anak tersebut sekitar 5 tahunan.

Saat pete-pete jalan kembali. Salah seorang dari anak itu berujar kepada ibunya bahwa lebih enak naik taksi. Anak berambut ikal tersebut mengatakan di sini (pete-pete) sangat panas. “ Nanti saja, pulang dari kantor mama baru kita naik taksi”, balas ibu dari anak yang berambut ikal tersebut.

Sepertinya anak yang berambut lurus terurai kayak tidak mau kalah. Dengan sedikit meregek kepada ibunya. Dia mengatakan ingin ke mall setelah kembali kantor ibunya.”Baiklah tetapi kita ajak juga Bella”, timpal ibu anak yang berambut lurus sambil melirik ke anak yang berambut ikal.

Dengan semangat kedua anak mengatakan apa yang ingin dilakukan di mall. Ada yang ingin bermain salju. Ingin makan di McD (Mcdonald). Bahkan salah satu dari mereka mengucapkan ingin ke Score. Sungguh miris rasanya mendengar seorang anak yang barangkali belum menginjak bangku sekolah sudah ingin ke tempat hiburan malam. Tambah miris lagi hati ini saat melihat ibu dari anak tersebut hanya tersenyum mendengar ucapan anaknya. Melihat tingkah laku kedua anak tersebut saya langsung teringat dengan sang keponakan. Seminggu yang lalu saat kakakku nginap di rumah. Kebetulan kakakku tinggal di rumah mertuanya. Saat itu kedua orangtuanya ingin membawanya jalan-jalan ke mall. “Ini debut pertama Salsa ke mall”, ujar bapak sang keponakan, yang juga kakak kandung saya. Dengan ceplos saya menimpali bahwa jangan sering-sering bawa anak ke mall. Bisa-bisa nanti kalau besar hanya akan jadi SPG di mall. Bukan bermaksud merendahkan tapi pekerjaan tersebut. Tapi hanya untuk menakuti-nakuti sang kakak. Maklum umur sang keponakan belum genap setahun.

Kalau mendengar kata mall saya langsung teringat ucapan beberapa senior di kampus. Salah seorang senior pernah berkata mall sekarang telah menjadi pusat gravitasi bumi. Pertama-tama saya tidak mengerti dengan ucapan sang senior. Tetapi setelah melihat bahwa manusia-manusia saat ini hanya dapat dikumpul pada suatu titik yang bernama mall.

Bahkan salah seorang senior pernah mengucapkan kepada saya. Bila kita mengelilingi mall sebanyak tujuh kali. Maka kita sudah bisa menyandang gelar “Haji mall’. Benar-benar kata-kata yang sangat ekstreme yang meluncur dari bibir seorang mahasiswa. Dia mengibaratkan bahwa mengelilingi mall itu sama dengan ritual Tawaf. Yaitu salah satu bagian dari rukun Islam yang kelima. Bahwa syarat untuk seorang muslim mendapat gelar haji jika melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali.

Karena sangat asyik mengkhayal. Saya tidak mengetahui saat seorang bocah berdiri tepat di samping pete-pete. Bocah tersebut kira-kira seusia dengan anak-anak yang berada di pete-pete. “Murah…murah…Cuma seribu”,teriak bocah tersebut sambil mengangkat-angkat koran terbitan nasional. Lalu sopir pete-pete memberikan selembar uang seribu kepada sang bocah. Dan bocah tersebut menyodorkan koran yang tadi dia angkat-angkat.

Saat melihat bocah penjual Koran itu kembali saya mengkhayal. Sungguh kontras keadaan negeri ini. Dimana beberapa anak dapat bermain dan berbelanja di mall. Seperti anak-anak yang ada di pete-pete dan sang keponakan saya. Walaupun mereka tidak sadar, orangtuanya telah menanamkan budaya konsumeristik. Di lain sisi ada seorang bocah yang rela mempertaruhkan nyawa. Berseliweran di antara kendaraan-kendaraan yang sewaktu-waktu siap menyerempet. Menjajakan koran, demi sesuap nasi untuk kelangsungan hidupnya.

Teringat dengan lirik lagu Iwan Fals. Saya ingin berteriak kepada seluruh anak-anak ibu pertiwi. Bangunlah untuk meninju congkaknya dunia. Bangkitlah untuk menghantam sombongnya dunia ini. Ingat kalian adalah harapan ibu pertiwi. Pemilik sah masa depan bangsa.

Read more!

Matinya Roh Kelembagaan

(Tangggapan Atas Perang Wacana “Preman Musiman” dan “Malaikat Kesiangan”)

Lama nian ku tak melihat perdebatan wacana di Ekonomi. Sebuah Tesa yang ditulis oleh “Malaikat Kesiangan”(Versi Preman Musiman) dibalas sebuah Antitesa oleh “Preman Musiman”(tuduhan Malaikat Kesiangan). Perang wacana menurut penulis adalah suatu keharusan yang terjadi di Kampus. Walaupun oleh seorang mahasiswa menyebutnya sebagai sebuah “provokasi”. Tapi penulis merasa bahwa itu sebagai sebuah budaya ilmiah di kampus. Asal tidak ditanggapi dengan “Esmosi”(kok seperti istilah disalah satu acara TV…maksudnya Emosi).
Persilahkan penulis untuk menjadi “provokator” dalam perdebatan wacana yang mulai muncul di Ekonomi. Hingga suatu hari nanti akan lahir sebuah Sintesa, karena penulis berharap semua mahasiswa ekonomi ikut dalam perang wacana ini. Sehingga budaya liteter yang sempat menjadi angan-angan dari seorang kawan dalam Visi dan Misi-nya saat pemilihan Ketua Himpunan dapat terwujud (tidak usah susah-susah buat Sekolah Menulis, langsung saja Aplikasikan di Mading).

Preman musiman memang meresahkan. Ibarat para Pertapa(bukan “Pertapa Genit”, sebutan Naruto kepada Gurunya>Jirayya), selama ini tak menampakkan batang hidungnya n turun gunung saat musim jamur tiba serta melahap semuanya. Maba, Panitia, bahkan Pengurus lembaga menjadi lahan aktualisasi mereka. Cacian, makian, tendangan serta pukulan adalah metode yang mereka gunakan.

Menyalahkan meraka akibat mandegnya pengkaderan selama ini a/ sebuah kesalahan tapi penulis tidak ingin menyebutnya sebagai kesalahan berpikir(mengutip dari Rekayasa Sosial). Sama seperti koment seorang kawan yang mengatakan bahwa kemalasan mahasiswa berlembaga akibat menjamurnya Mall, sehingga orang lebih senang ke Mall daripada mampir di lembaga.

Mungkin yang kawan maksud itu tidak salah, tapi kalau sampai mengatakan itu adalah penyebab utama(Mall) dan para Preman Musiman yang harus bertanggung jawab, secara pribadi tidak sepakat karena yang menjadi Penyebab utama mandegnya pengkaderan dan harus bertanggung jawab adalah Lembaga kemahasiswaan itu sendiri.

Hari ini apa yang telah dilakukan lembaga terhadap KeMa. Bahkan hari ini lembaga sudah kehilangan Barganingnya sehingga satu per satu otoritasnya dipreteli. apa coba yang di dapat saat mengikuti pengkaderan? Embel-embel keluarga mahasiswa.. Aduh sungguh memalukan, kalau ternyata hanya itu yang didapat, saya bersedia menanggalkan embel-embel tersebut kalau
itu masih melekat sama saya.

“jika mahasiswa tidak menuntut haknya,,biarlah meraka ditindas sampai mati oleh dosen korup"(Gie)

Salah satu untuk mengatasi kemandekan pengkaderan dengan menuntut kembali otoritas dari lembaga yang telah di rampas oleh birokrat...Biarkanlah mereka mengambilalih PMB dengan kebijakan 1 bulan setelah baru membolehkan lembaga untuk mengadakan pengkaderan...

tapi kawan harus menuntut kepada mereka(birokrat busuk) 1 sks dalam kurikulum, ini sebagai posisi tawar lembaga kepada maba...walaupun terasa sangat pragmatis tapi itu lebih baik daripada menjanjikan maba dekat dengan pengusaha n penguasa(aduh sungguh memalukan)...

Hal ini sudah sangat perlu dilakukan supaya lembaga tidak lagi kelimpungan saat PMB...Setelah itu lembaga harus memperbaki sistem pengkaderan dengan menutup or minimalisir ruang gerak dari oknum dan para oportunis yang menjadikan lembaga sebagai ruang aktualisasi...

menciptakan kader yang radikal adalah harga mati dari lembaga kemahasiswaan...karena lembaga kemahasiswaan adalah benteng terakhir rasionalitas untuk menghadapi kepungan kapitalis...harapan ada di tangan lembaga setelah tembok Universitas telah diruntuhkan oleh kapitalis...selamat berjuang kawan,,karena hanya yang berdarah yang berhak bicara...revolu$i

Preman Musiman yang merasa bahwa lembaga tidak memberi mereka ruang untuk bergerak menjadikan alasan untuk melakukan tindakan brutal. Penulis merasa hal itu tidaklah logis dan mengada-gada. Karena selama ini para Preman musiman tetap menjadi Pengurus lembaga, bahkan masih diberi ruang untuk tampil dengan membawakan materi. Atau kalian ingin tampuk tertinggi dalam Lembaga Kemahasiswaan Ekonomi(hehe…Sungguh tinggi cita-citamu).

Satu lagi kepada para Preman Musiman yang merasa bahwa Pengkaderan hanya milik para orang Cerdas. Penulis hanya mau bilang “Ya, iyalah”. Ini kampus loh, jadi budaya-budaya ilmiah harus terus dilakukan. Kalian pasti tau bahwa ini bukan Parkiran or pasar yang bisa dijadikan pangkalan jatah, bahkan kampus bukan Café dan Bar yang mempunyai legalisasi untuk menjadi tempat kalian minum-minum(eeeh…liat Ka eeh.. Mabok ka). Kita bersama-sama pasti mengetahui Falsafah Pelangi. Bahwa Pluralisme adalah sebuah kemutlakan. Tapi kita juga harus paham keindahan pelangi karena perbedaannya tidak keluar dari koridor yang telah ada.

Kepada seluruh pembaca, penulis ingin mencerikan sebuah kisah. “Dahulu kala ada sebuah tempat yang bernama Tanah Merah. Dimana preman sering juga meneriakkan penolakkan terhadap penindasan terhadap rakyat. Para preman juga seiring baca buku. Mereka masih sering kajian. Saat kawan-kawannya turun ke jalan dan terpaksa harus berhadapan dengan tindakan progresif aparat, mereka berdiri di barisan terdepan untuk membobol blokade aparat”.

Semoga perang Wacana akan terus berlanjut. Walau penulis akan menjadi musuh bersama dari Preman Musiman dan malaikat kesiangan. Ingat ini kampus jadi jari-jemari yang telah mengepal tidak dapat dijadikan senjata. Tapi yang menjadi senjata adalah jari-jemari yang mengoreskan tinta pena.

Hormat Penulis kepada orang telah melakukan perang wacana di Ekonomi. Penulis banyak belajar dari kalian.

Rumah Kenanganku, sehari pasca genderang perang wacana telah ditabu Read more!